Today is May Day
Twitter adalah medium untuk “berteriak” paling mutakhir saat ini, yang diperlukan hanyalah handphone dengan koneksi internet (dan pulsa), akun twitter yang masih aktif dan ide pikiran yang cukup diungkapkan dalam 140 huruf atau kurang.
140 huruf yang cukup untuk mendiskusikan apa makanan yang anda baru makan hari ini, baju apa yang dipakai untuk kondangan, atau untuk menunjukkan anda sedang minum kopi dimana siang ini melalui foursquare.
140 huruf yang bisa dipakai untuk menyatakan hal baik, buruk, lucu, NSFW atau malah mungkin menyedihkan, tapi satu hal yang pasti adalah sebagian besar bahasannya ringan atau terasa ringan karena memang bagi saya hal-hal seperti itu yang paling gampang untuk ditulis.
Apakah yang terjadi bila anda mencoba men-stretch-kan limitasi 140 huruf ini untuk mendiskusikan hal yang lebih berat? Mendiskusikan masalah buruh dan serikat pekerja misalnya karena sekarang hari buruh(mayday)? Masalah yang kalau anda boleh jujur ke diri anda sendiri, mungkin juga gak terlalu tahu.
Hasilnya -diluar dugaan-, ternyata menyakitkan hati saya dan saya bahkan termasuk orang yang bisa dikatakan tidak terlalu peduli.
I Don’t even care if today is mayday
Saya tidak begitu “ngeh” kalau sekarang adalah hari buruh kecuali dari pemberitahuan macet karena demo via teman-teman, juga mungkin tidak begitu peduli kehidupan buruh kalau bukan karena trending topic buruh dan serikat yang muncul di tweetdeck saya.
Tapi satu hal yang pasti, saya yakin ada orang-orang yang berjuang untuk buruh-buruh ini, rela berkeringat dan tidak digaji demi buruh-buruh ini, dan tidak mempedulikan hidupnya sendiri agar buruh-buruh ini diperhatikan nasibnya oleh Pemerintah. Beberapa diantaranya mungkin mati dalam perjuangannya untuk mengangkat derajat buruh-buruh ini dan yang lain mungkin memilih demo supaya perjuangannya diliput oleh media mainstream, dengan kata lain, purest your-job-is-not your-career type of people . Semua itu dan anda mau membahasnya dalam 140 huruf? You’are either that naïf or you’re a middle class.
When you’re middle class, all problem look like a middle class problem.
.
mrshananto Gaji besar itu rumusnya = passion + kerja keras + tingkatin performance perusahaan. Demo gak bikin duit mengalir#buruh&serikat
.
Beberapa hari yang lalu, saya mengisi bensin disebuah SPBU Pertamina dengan logo Pasti Pasnya. Saya dilayani setengah hati dan setengah peduli oleh salah satu petugasnya. Semua pelayanan dilakukan dibawah standard yang seharusnya dipakai petugas Pertamina Pasti Pas, dan bila saya begitu berdedikasinya untuk menyalakan semangat bekerja dihati petugas yang malas-malasan ini, saya pasti akan mengeluarkan jurus “your job is not your career” lengkap dengan trik-trik jitu supaya mereka selalu semangat dalam menjalankan tugasnya, berdedikasi dalam melayani pelanggan dan niscaya mereka akan menemukan jalan karirnya sendiri. Saya yakin yang saya lakukan benar, jurus itu menginspirasi ratusan ribu orang middle class Indonesia untuk membaca bukunya. Mustahil jurus itu tidak berguna.
Tapi you know what? I don’t do that.
Saya tidak berada dalam kehidupan mereka, saya tidak tahu dimana mereka tinggal, sekolah dan makan. Kalau disuruh menyebutkan nama petugasnya saya juga tidak bakal ingat sekarang. Saya bahkan (mungkin) tidak berada dalam rentang sosial-ekonomi yang mereka jalani. Bagi saya, saya adalah orang terakhir yang punya hak untuk memberikan kepada mereka jurus “your job is not your career” bukan karena jurus itu salah atau tidak berlaku buat mereka, tapi karena saya sedang mencoba memecahkan masalah yang saya tidak ketahui melalui perspektif hidup yang saya pakai. Sebuah hal yang bagi saya sedikit egois.
Diakhir pengisian bensin saya, saya akhirnya ucapkan terima kasih dengan tulus dan sedikit menepuk lengannya. Petugas itu membalas dengan senyuman juga dan berkata, terima kasih pak, hati-hati dijalan yah pak sambil membantu menutup pintu mobil saya. It’s not the most useful tips I ever had if I must say. Tapi senyumannya? Dan aura ketulusannya? Priceless.
Mulutmu harimaumu
Twitter, adalah segala hal. Bagi sebagian orang twitter adalah pengganti yang paling tepat untuk SMS walaupun SMSnya dibaca seluruh dunia, bagi sebagian orang lainnya, twitter adalah tempat untuk mengabuse RT secara maximal, beberapa orang menggunakan twitter sebagai tempat curhat, tempat ngasih link ke site porno, link ke site gak penting dan ribuan hal yang bahkan saya tidak tahu ada, itu semua tidak menjadi masalah dan sebenarnya nobody even care about this shit. There weren’t any rules back then, there are no rules today, and there will be no rules in the future. Twitter is all these things.
Tapi saat pertanyaan twitter “what’s happening”dijawab dengan, yuk mari kita diskusi mengenai “labour, union, and demonstration. Why demonstration is bad and why this is middle class fault” tantrum, anda akan tahu bahwa hasil diskusinya biasanya jadi terpecah-pecah.
Twitter as a web structure is not designed for discussion. Akibatnya semua hal yang diawali di twitter, susah sekali dicari ujung awalnya (oleh orang awam). Saya tidak peduli dengan alasannya tapi kalau hasil diskusi membuat saya harus menulis artikel ini, to be honest, mungkin sebaiknya diskusinya dilakukan dalam medium yang lebih jelas dan bisa membuat saya mengangguk-angguk tanda setuju.
Dead Experience
Pengalaman bersentuhan dengan kematian untuk saya paling dekat adalah saat pesawat -yang akan mengantar saya ke sebuah rig oil di antah berantah-, drop beberapa puluh meter saat melewati daerah vakum. Hal pertama yang terlintas di pikiran adalah wajah istri saya. Kata “Saya tidak akan pernah mau mengalami hal itu lagi” adalah yang pertama kali saya ucapkan begitu turun dari pesawat (saya terbang 2-3 kali lagi ke tempat ini untuk beberapa bulan berikutnya), cukup shallow untuk sebuah near dead experience. Saya tidak pernah disiksa, digangbang atau di gang rape, dimasukkan benda tumpul kedalam anus saya atau penis, dipukuli sekujur tubuh sampai meregang nyawa seumur hidup saya, tidak pernah sampai detik ini dan semoga tidak akan pernah saya alami sampai akhir hayat saya. Tapi tahukah anda bahwa ada orang yang pernah mengalami ini dan tubuhnya ditemukan tidak bernyawa tiga hari semenjak dia dinyatakan hilang. Namanya Marsinah. Dia adalah aktivis buruh untuk sebuah perusahaan di Jawa timur. Tujuannya adalah menjadi mediator dalam menegosiasikan demo buruh perusahaan yang meminta uang makannya naik (kalaua tidak salah).
Tanpa bermaksud apa-apa, Kalau Marsinah yang mengalami semua hal mengerikan diatas masih hidup sekarang, melalui keajaiban yang saya tidak tahu bagaimana, masihkah anda berani berkata seperti ini dihadapannya?
.
Inspirational word
Hormatilah marsinah-marsinah yang tadi pagi marching diseluruh dunia (termasuk Indonesia) mencoba berjuang dan berteriak untuk menaikkan harkat martabat teman-temannya, marsinah-marsinah yang mungkin lebih pahlawan dari pahlawan-pahlawan kita, dan lebih rockstar dari rockstar-rockstar yang kita kagumi. Bahwa itu membuat acara sabtu siang anda sedikit macet, atau membuat mata anda sepet saat melihat berita di tivi cobalah untuk direlakan, time is money bagi anda, tapi bagi mereka mungkin there is no time. Hormati mereka dengan cara berdiskusi tentang buruh dan serikat pekerja di medium yang lebih baik. Coba diskusikan di Blog pribadi anda bila anda punya blog, notes di Facebook anda, podcast bila anda seorang podcaster, bahkan email ke seluruh follower anda bila anda sebegitu ekstremnya. Beritahu apa itu buruh dan apa itu serikat pekerja -bila memang itu tujuan anda- kepada teman-teman anda melalui medium-medium diatas, tapi tolong jangan hanya dengan 140 huruf, karena mereka adalah ribuan cerita yang mungkin tidak pernah anda dengar. Twitter adalah segala hal, tapi menghormati mereka bukan salah satunya.
ps: tulisan ini adalah respon saya terhadap tweet ini yang merupakan respon terhadap tweet saya, jadi saya anggap wajar yah untuk men-singled out-kan ibu cantik yang satu ini di artikel kali ini.


