komik adalah bagian dari hidup saya. Kedekatan saya dengan komik membuat saya akhirnya mengenal desain dan art secara umum. Dari komik juga saya belajar menggambar anatomi tubuh manusia (well, i got to say thank to Tony Wong for his art in Tiger Wong, komik yang signifikan pengaruhnya bagi saya). Setelah puas dengan berbagai gambar dan eksperimen menggambar anatomi, seperti comic artist wannabe lainnya, pada akhirnya ada dorongan untuk membuat komik yang dibuat oleh tangan saya sendiri. Dalam perjalanan saya membuat komik yang bagus (menurut standard saya tentunya) salah satu yang membuat pusing adalah penyusunan frame. Well I know this is not a rocket science, but still penempatan frame yang baik akan membuat sebuah komik jadi bagus-selain konsistensi kualitas gambar tentunya
Dan disinilah saya melihat bagaimana evolusi frame dunia komik luar, -Amerika pada umumnya- ikut mempengaruhi bagaimana frame dipakai di perkomikan nasional. Secara komik nasional (if I can say that) bagi saya diwakili oleh generasi Qomik Nusantara (Caroq, Jawara dll) dan Gramedia (dua warna dan Alakazam). Dua generasi ini jelas mengusung tema komik Amerika, paling enggak, tidak ada nama tokoh seperti uriel lightbringer :) atau nama sejenis didalam komik-komik itu.
"Frame-frame ini kemudian digabung dalam rangkaian panel-panel statis, dari sini kemudian komik dapat menyampaikan cerita seutuhnya kepada pembaca. Bisa dilihat bahwa keterbacaan sebuah komik dipengaruhi oleh dua hal penting: pengaturan frame dan kontinuitas cerita itu sendiri"
Frame
Frame adalah sebuah kotak dalam komik yang menggambarkan scene tertentu. Dalam banyak hal frame ini mempunyai format bermacam-macam. Tapi walaupun begitu fungsi frame tetap sama, untuk membatasi pergerakan cerita sehingga komik dapat dicerna dengan lebih baik, standarnya frame ini akan digabung thought ballon, naration box dan conversation ballon, but this is not always the case as you will read more below. Frame-frame ini kemudian digabung dalam rangkaian panel-panel statis, dari sini kemudian komik dapat menyampaikan cerita seutuhnya kepada pembaca. Bisa dilihat bahwa keterbacaan sebuah komik dipengaruhi oleh dua hal penting: pengaturan frame dan kontinuitas cerita itu sendiri. The beginning

Pada masa ini juga Will Eisner dengan The Spiritnya muncul, Will disebut sebagai orang dibalik pengakuan komik sebagai sebuah literatur, thus term:graphic novel came up. Eisner datang ke dunia komik juga dengan memperkenalkan borderless panelnya. Pada tahun 80an nama Will Eisner menjadi makin bergengsi setelah dibuat award dengan nama Will Eisner award untuk orang-orang kreatif di dunia komik.

in the 80's
Bagi penggila komik saat itu (dan sampai saat ini juga), novel grafik dengan judul Watchmen dan V for Vendetta tentunya tidak asing lagi. Dan bila saya menyebut dua judul ini, mau tidak mau kita bicara mengenai Alan moore, orang brilian yang memperkenalkan konsep deskriptifnya dan pendewasaan pembacanya. Kedua novel ini signifikan bukan hanya dalam ceritanya, tapi juga dalam breaktrough frame panelnya, seperti yang disebutkan oleh Satria dalam emailnya kepada saya:
Tp, yg interesting itu gimana Moore makai komposisi simple itu buat bikin efek cinematic. 9 panel identical (in size) itu jd represent a movie screen. A scene yg sebenarnya bisa dibikin dlm 2 panel, di extend ke 9 panel itu. Klo dlm 2 panel, pembaca itu infer sendiri what happens between the two panels, dlm 9 panel, what happens in between di lihatin di panel 2 - 8. Satu hal lg yg bikin cinematic: captions cuma sedikit & gak ada thought balloon.
ah, thats right people, efek sinematik. nantinya gaya penyusunan panel seperti ini akan diadaptasi lebih lanjut di abad 21, Tapi pada saat itu -ditengah gencarnya persaingan DC comic dan Marvel comic- ini merupakan angin segar bagi dunia komik sebagai sebuah aliran literatur.
Walaupun efek sinematik mendapatkan pujian, pada dekade ini arah frame dinamis telah muncul, contohnya pada komik The New Teen Titans, Spiderman, dan komik-komik populer lainnya.
the rebellion of Images comic
Dekade 90an, dunia komik bertambah ramai dengan munculnya kuda hitam bernama images comic yang dipimpin oleh Todd McFarlane dan Rob Liefeld, Image dengan beragam studio dibawahnya menawarkan frame dinamis yang benar-benar out-of-the-box. Spawn adalah salah satunya. Spawn sebagai sebuah komik menawarkan desain frame yang..hm..bukan frame. Banyak contohnya, tapi yang paling kelihatan adalah asimetris frame, hal yang benar-benar di eksploitasi disini.

Greg Capullo membawa asimetris framenya ke arah yang lebih ekstrem dengan membungkus setiap frame dengan tema pada halaman itu, bisa saja frame ini dibungkus tulang-tulang saat adegannya mencekam, atau malah tidak diberi pembungkus apapun saat memang adegannya tidak menunjukkan tendensi kemana-mana.
Spawn juga memberi makna baru pada naration box. Di komik ini naration box mempunyai arti penting karena tokohnya sendiri memang lebih suka bercerita melalui pikirannya.
Tapi kemudian ternyata hal ini yang kemudian dicontoh oleh komik-komik Indonesia secara parsial dan malah cenderung tidak diperlukan, terutama bagian naration box-nya, coba liat Caroq, Jawara dan bahkan dua warna, semua mencoba puitis dengan naration box-nya bukan? dan cukup tidak berhasil membawa pembaca ke level pemahaman selanjutnya juga.
the outsider
Bila dekade 90an Image comic menjadi the-buzz-word, maka di saat ini (tepatnya pada akhir 90an) juga muncul gaya widescreen frame comic yang diperkenalkan oleh the authorithy, sebuah komik dari Warren Ellis dan Bryan Hitch. Pada gaya widescreen ini terjadi asimilasi gaya Alan moore sehingga disini benar-benar tidak ada thought ballon dan naration box, semua dijelaskan oleh gambar-gambarnya dan conversation ballon.

seperti Authority dan new X-Men
Bryan Hitch dengan The ultimatesnya juga muncul di dekade ini membawa widescreen lebih cutting edge dengan cinematic artnya.
Indonesian comic nowadays
setelah sekian lama mengikuti dan berlangganan komik Amerika, bagi saya komik Indonesia itu stuck at the 90's. Saya tidak tahu kenapa. Dua Warna yang diterbitkan oleh Gramedia, seharusnya menjadi saat monumental bagi komik Indonesia dalam melawan hegemoni komik Jepang, apalagi dengan usungan style komik Amerika-nya yang akan membuat dunia komik Indonesia menjadi : Manga style vs American Style. tapi beberapa saat setelah melihat komik ini, Dua Warna adalah Battlechaser dalam versi Indonesia. Kita tidak bicara tentang Joe-Madureira-kinda-style tapi lebih ke Liquid!-coloring-kinda-style. lengkap dengan segala bau 90annya seperti naration boxnya yang menggurui dan dynamic frame yang seperti saya bilang tadi, pointless. Bahkan (saya tidak akan menyebutkan edisi mana) sebuah tanda panah dipasang untuk memberi tahu pembaca frame mana yang lebih dulu dibaca dan mana yang nanti. That -i say- is suicide in the most basic form.
Kesimpulan
Membuat komik itu tidak mudah, itu saya tahu sekali, tapi style yang stuck in the 90's juga sudah terlalu basi untuk dieksploitasi, so my recommendation -from the perspective of mediocre comic artist- is:
read more, learn more, draw less
ps:[1] semua gambar komik diatas dicapture (bukan diambil) tanpa izin dari wikipedia
[2] Bila mau lebih detail tentang graphic novel, bisa datang ke splashpanel.com. sebuah blog yang bicara khusus mengenai graphic novel
with major help from Satria Krisnandi, actually the structure of this post was provided by him
.
Why there is no picture in this article?
On March 2008, anthronic.com account server that was hosted by singcat, freeze by their data center. The reason was because there are many spam account originate from my account server, probably because singcat was hosting a lot of spam account in the same server as I am, meaning that because of those spam accounts, all legitimate account was also terminated including mine. To make matter worse, I don't have any access whatsoever into my data that was stored in my account, although luckily I can rebuild SQL database from the backup (that's explain why you still see the article but not the picture).
That is the reason why you see no picture in this article; it was because I didn't have the original picture that goes along with the article. Of course several pictures can be restored from my offline draft but I’m afraid some pictures will never be recovered. I hope you understand this completely and I'm sorry for this troublesome fact.
Kenapa tidak ada gambar di artikel ini?
Pada Maret 2008, akun anthronic.com yang dihosting oleh singcat dibekukan pihak data center singcat. Alasannya server tempat anthronic.com ditempatkan telah menjadi server spam. Akibatnya semua akun yang tidak terlibat apa-apa dengan hal ini juga ikut dibekukan termasuk milik saya. Lebih parah lagi saya tidak punya/tidak diberikan akses apapun untuk bisa mengambil data yag telah disimpan di akun tersebut termasuk file gambar, walaupun syukurnya saya masih bisa mengembalikan SQL databasenya (itu menjelaskan kenapa anda bisa melihat artikelnya tapi tidak bisa melihat gambarnya).
Walaupun sebagian kecil gambar bisa dikembalikan, saya pikir tidak ada kemungkinan untuk bisa mengembalikan sebagian besar gambar yang lain.Saya harap anda semua mengerti hal ini dan saya minta maaf atas kejadian ini.
Regards,
Andrianto Hapsoro
ps: All image path still retain its original path, so if you ever though I copied and paste the article from somewhere else, think again you fuckhead!
this link will make you understand better:
- My other account that also affected
- Review singcat di web hosting top
- Copy paste email urgent singcat



